Sabtu, 30 April 2011

A.K.U. R.I.N.D.U. A.L.L.A.H. Karya : ~∂eanny♥divΞ

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


A.K.U.  R.I.N.D.U.  A.L.L.A.H.


Sung by : ~∂eanny♥divΞ
Video Editing by : M.A.D. Team
Audio & Sound Creative by : Muhammad Dive
Produced by : Indonesian Broadcaster


 

TERPAKU AKU
TATKALA KUTERJAGA
DARI MIMPI INDAH DUNIAWI

TERLALU BANYAK DOSA
YANG TLAH KULAKUKAN
SUNGGUH HINANYA
DIRI INI DI HADAP-MU

KUBERSIMPUH
KEHADIRAT-MU YAA ALLAH
YANG MAHA MULIA

KUTUNDUKKAN KEPALA
KUTENGADAHKAN TANGAN
MEMOHON AMPUN
DAN RIDHO-MU

REFF:

RINDU AKU
KEPADA-MU
TERLALU LAMA
BERPALING DARI-MU

RINDU AKU
PADA-MU ALLAH
TERANGILAH
JALAN HIDUPKU

BACK TO:

KUBERSIMPUH
KEHADIRAT-MU YAA ALLAH
YANG MAHA MULIA

KUTUNDUKKAN KEPALA
KUTENGADAHKAN TANGAN
MEMOHON AMPUN
DAN RIDHO-MU

BACK TO REFF 2X
SELAMATKAN JALAN HIDUPKU


N.O.T.E. :

We very special thanks to :
1. Ketika Cinta Bertasbih The Movie
2. Janji Joni The Movie
3. AADC The Movie
4. Die Hard 2 The Movie
5. Cheeni Kum The Movie
6. All Pretty Mukminah On The Air
















Barakallaahu fiekum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ
©Indonesian Broadcaster™

Kamis, 28 April 2011

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


 

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi


Communication By : ©Abi Dive™
Bumi Allah, 28 April 2011




Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatu


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt…



Sesungguhnya mukmin itu akan selalu menjaga lidahnya dari mengucapkan kata-kata yang buruk, dan akan selalu berusaha untuk mengucapkan kata-kata yang baik. Berikut ini saya sampaikan “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”, yang insyaAllah telah di atur dalam syari’at, dan hendaknya kita patuhi bersama.



01.  Tidak memanggil dengan sebutan yang buruk

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memanggil sudaranya dengan sebutan (gelar) yang buruk. Sebab hal itu dapat menyakiti perasaan orang lain, dan menumbuhkan kebencian. Hendaknya seorang muslim saling menjaga kehormatan satu sama lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuraat {49}:11).

02.  Haram mengucapkan kata-kata yang merusak

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kata yang tidak jelas kandungannya, lalu dengan itu dia turun ke dalam neraka dengan jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

03.  Menghindari perdebatan dan berbantah-bantahan

Hamba yang shalih akan selalu meninggikan dan menjauhi perdebatan yang akan menyebabkan terjadinya sikap permusuhan dari menyia-nyiakan kebenaran, serta menghindari obrolan yang akan mendatangkan pertengkaran dan saling menjatuhkan antara sesama. Mukmin itu hanya mau menerima diskusi yang diwarnai dengan nuansa kesejukan, sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang dampaknya tidak terpuji.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl {16}:125).

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mau meninggalkan perdebatan, sedangkan dia sebagai pihak yang keliru, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di sekitar surga. Barangsiapa yang meninggalkannya ketika dia sebagai pihak yang benar, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di bagian tengah surga. Barangsiapa yang memperbaiki akhlaknya, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di bagian atas surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi).

04.  Haram membantah dan menentang kebenaran

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah {2}:204-206).

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang sangat memusuhi.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).

05.  Menghargai dan mendengarkan orang yang berbicara dengannya

Menatap wajah kepada yang berbicara dengannya, menampakkan rasa senang ketika mendengarkan perkataannya, tidak menyibukkan diri dengan berbicara sendiri, serta tidak menguap di hadapan orang yang berbicara dengannya. Jika dia berbicara dengannya, maka dia menjadikannya teratur dan tertata serta tidak membuat tertawa.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau meremehkan perkara makruf sekecil  apapun, meski (dalam bentuk) engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum.” (HR. Imam Muslim).

06.  Tidak mengucapkan “Ma sya ‘Allah wa syi’ta

Ini merupakan bentuk syirik dalam hal kehendak (masyi’ah). Ini merupakan lafal yang sangat buruk. Sebab kehendak itu hanyalah milik Allah, dan kehendak-Nya pula, hamba itu bisa berkehendak.

Imam Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘sya’Allah wa fulan’ (atas kehendak Allah dan fulan), akan tetapi ucapkanlah ‘sya’Allah tsumma fulan’ (atas kehendak Allah, kemudian kehendak fulan).”

Keterangan : Ma sya ‘Allah wa syi’tamaksudnya (atas) kehendak Allah dan kehendakmu.

07.  Tidak mengucapkan, “Andai saja”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "ANDAI SAJA mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka.” (QS. Ali Imran {3}:156).

Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau mengatakan, ‘Kalau saja aku melakukan ini dan ini, tentu akan begini dan begini!’ Akan tetapi, hendaklah dia mengucapkan, ‘Allah memang telah menakdirkannya, sedangkan apa saja yang dikehendaki oleh Allah, maka DIA bisa melakukannya.’ Sebab, kata ‘andai saja’ itu membuka pintu perbuatan syaithon.” (HR. Muslim—yang diawali dengan lafal, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oelh Allah daripada orang mukmin yang lemah).

08.  Tidak menyebut orang munafik, orang fasik, dan ahli bid’ah dengan panggilan, “Ya sayyidi” (wahai tuanku) dan semisalnya

Di riwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut, ‘sayyidina’ (tuan kami), karena sesungguhnya jika dia menjadi sayyid, maka kalian telah membuat Rabb kalian murka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i).

09.  Tidak mengatakan “Ya kafir” kepada orang muslim

Al-Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengatakan kepada saudara musliminnya; ‘Ya kafir’ (wahai si kafir), maka hal itu akan kembali kepada salah satunya. Jika memang saudaranya seperti yang dikatakannya (mungkin tidak mengapa), tapi jika tidak maka hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.”

10.  Tidak mengatakan; “binasalah orang-orang itu”

Imam Muslim, Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang mengatakan, ‘Binasalah orang-orang itu’, maka dia adalah orang yang paling binasa.”

Untuk hadits di atas Abu Ishaq mengatakan, “Aku tidak tahu apakah dibaca nashab (akhlakahum; maka dia telah membinasakan mereka), atau dibaca rata (akhlakuhum; maka dia adalah orang yang paling celaka).”

11.  Tidak menyebut ‘rajadiraja’ kepada penguasa

Sesungguhnya hanya Allah-lah penguasa yang hakiki, tidak ada yang berhak selain DIA menyandang gelar raja di atas raja. Bagi orang menggelari dirinya raja di atas segala  segala raja, sama saja dengan menyombongkan diri terhadap Pencipta-nya.

Hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling rendah (hina) di sisi Allah adalah seseorang yang menanamkan diri Malikul-Amlak (Rajadiraja atau Maharaja).”

Sufyan bin Uyaimah—salah seorang perawi hadits ini—mengatakan, “Yang disebut Malikul-Amlak adalah seperti Syahansyah (Rajadiraja).” Selanjutnya Beliau saw menambahkan, “Tidak ada penguasa hakiki, kecuali Allah.”

12.  Tidak mengucapkan “as-salamu ‘alallah

Al-Bukhari, Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengatakan; as-salamu ‘alallah (salam atas Allah), akan tetapi ucapkanlah: “Segala kehormatan itu milik Allah, demikian juga shalawat dan segala kebaikan. Kesejahteraan semoga tercurah kepadamu wahai Nabi, demikian juga rahmat Allah dan barokah-Nya. Kesejahteraan semoga tercurah kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih.”

Sesungguhnya jika engkau mengucapkan yang demikian itu, maka dia akan melimpahi setiap hamba di langit dan di bumi.”

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Kemudian silakan dia memilih dan yang menarik baginya, lalu memanjatkan doa tersebut.

13.  Tidak mengucapkan; “kita mendapatkan hujan karena bintang hujan (nau)”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Zaid bin Khalid, bahwa dia berkata, “Rasulullah mengerjakan shalat Subuh bersama kami di Hudaibiyah, di suatu tempat yang diguyur air hujan semalaman. Ketika selesai mengerjakan shalat, Beliau saw menatap para sahabat seraya berkata, “Apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau saw kemudian bersabda, “Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang menjadi mukmin dan kafir kepada-Ku. Orang yang mengucapkan; ‘Kita mendapatkan hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Nya dan mengkufuri bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Kita mendapatkan hujan karena bintang ini dan ini, maka dia menjadi kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”

14.  Tidak suka mengucapkan, “busuk jiwaku”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘busuk jiwaku’ (khabutsat nafsi), akan tetapi hendaklah dia mengatakan ‘tercela diriku’ (laqisat nafsi).”

15.  Tidak mengatakan, “ta’isas-syaithan

Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan al-Hakim meriwayatkan dari ayah Abu al-Malih, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengatakan ‘ta’isas-syaithan’ (celakalah setan), karena dengan itu dia justru membesar hingga menjadi seperti gunung. Lalu dia akan mengatakan, ‘Dengan segala kekuatanku, aku akan membantingnya.’ Tapi, hendaknya ia mengucapkan; ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Karena jika engkau mengatakan seperti ini, setan itu mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.”

16.  Tidak mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki!

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau menghendaki; Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau menghendaki!’ Hendaknya ia memantapkan permintaannya, karena tidak ada yang bisa memaksa Allah.”

Dalam hal ini memantapkan permintaan kepada Allah swt, merupakan ungkapan berbaik sangka kepada Allah swt. Itu pula sebabnya (sebagai salah satu contoh), mengapa ketika kami menyampaikan sapaan senantiasa menuliskan dengan : “Sahabat Indonesian Broadcaster YANG DIRAHMATI oleh Allah subhanahu wa ta’ala”, tanpa menggunakan penambahan kata “SEMOGA”. Wallahua’lam bish-showab.

17.  Tidak menyebut ‘Inab’ (anggur) dengan nama ‘karm

Dalam hadits muttafaq ‘alaihdisebutkan riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut ‘inab’ (anggur) dengan nama ‘karm’, karena karm (mulia) adalah orang muslim.”

Dalam riwayat lain disebutkan “Karena ‘karm’ adalah hati (jantung) orang muslim.” Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim lainnya disebutkan, “Sesungguhnya ‘karm’ adalah hati seorang muslim.”



Sahabat Indonesian Broadcaster yang di rahmati oleh Allah swt…

Demikian tadi uraian tentang “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”. Semoga dengan mengetahui dan memahaminya, hendaknya kita pun mewaspadai hal-hal tersebut agar tidak mengulanginya lagi di waktu mendatang.

Wallahua’lam bish-showab.





Barakallahu fiekum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™
(Posting By : Indonesian Broadcasting).


10 Prinsip Ilmu

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)



10 Prinsip Ilmu

Communication By : ©Uda Dive™
Bumi Allah, 28 April 2011




Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt…

Setiap muslim hendaknya menyadari, bahwa ilmu MUTLAK harus dimiliki, karena hanya dengan ilmu, ia akan mampu mengetahui hal-hal yang akan semakin meneguhkan keimanannya dan menetapkan akidahnya.

Bahkan dalam beribadah kepada Allah, menuntut setiap orang yang beriman untuk mempelajari hukum-hukum syara’, sehingga ia dapat beribadah berdasarkan pengetahuan yang mendalam tentang hal-hal yang dilakukannya. Dan melalui ilmu jua manusia akan mencapai pemahaman tentang kesempurnaan, keagungan, dan kekuasaan Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir {35}:28).

Para ulama pada setiap waktu dan tempat,tetap menjadi pemimpin dan panutan. Allah menyinari pandangan mereka dengan ilmu dan hikmah. Diriwayatkan dari Mu’awiyah, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dikehendaki kebaikannya oleh Allah, maka Allah memahamkannya dalam urusan dien.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).


Sahabat Indonesian Broadcaster, berikut ini adalah “10 Prinsip Ilmu” yang di maksud :

01.  Mempelajari ilmu demi mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Hamba yang shalih akan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya. Sesungguhnya ia tidak akan belajar ilmu demi meraih materi keduniaan yang fana, sehingga ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, namun ia tidaklah mempelajarinya, kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia kelak tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

02.  Tidak menyembunyikan ilmu.

Wahai diri, jangan pernah engkau pelit dengan ilmu dan menyembunyikannya demi kepentingan dirimu sendiri. Sebab sesungguhnya ilmu itu adalah milik Allah swt, dan engkau diperintah-Nya untuk memberi khabar gembira ini kepada semesta alam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah {2}:159).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyembunyikan ilmu dari orang yang semestinya berhak mendapatkannya, maka pada hari kiamat akan di kekang dengan kekang dari api neraka.” (HR. Ibnu Adiy).

03.  Mengamalkan ilmu.

Hamba yang shalih selalu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, sehingga ia menjadi teladan bagi yang lain. Juga agar di akhirat nanti ia tidak akan ditelanjangi boroknya, sehingga ia mengatakan, “Memang benar, aku memerintahkan hal yang makruf, namun aku sendiri justru mengerjakannya.”

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Pada hari kiamat nanti, ada seseorang yang didatangkan, lalu dia dimasukkan ke dalam neraka sehingga usus-ususnya keluar dari perut, kemudian dengan usus-usus itu dia akan berputar-putar seperti berputarnya keledai pada alat penggilingan. Para penghuni neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata, ‘Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau orang yang dahulu memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar?’ Dia pun menjawab, ‘Aku memang telah memerintahkan kalian untuk berbuat yang makruf, namun aku sendiri tidak mengerjakannya. Demikian juga aku cegah kalian dari keburukan, namun aku sendiri jutru melakukannya.”

Usamah bin Zaid juga mengatakan, “Aku juga telah mendengar Beliau saw bersabda, “Pada malam ketika aku di isra’kan oleh Allah, maka aku melewati suatu kaum yang bibir mereka akan di gunting dengan gunting dari api neraka. Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka itu, Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah para juru khutbah (penceramah, da’i) yang mengatakan (memerintahkan) sesuatu yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff {61}:2-3).

MasyaAllah sungguh mengerikan ketentuan “Prinsip Ilmu” pada poin ketiga ini. Astaghfirullah, jangan-jangan saya juga termasuk seseorang yang pernah berbuat demikian, astaghfirullaah wa naudzubillahi min dzaliq. Yaa Allah, ampuni kami bila sempat melakukan hal itu, baik disengaja maupun tak disengaja. Ampuni kami yaa Allaah…

04.  Menjaga diri dari mengaku sebagai orang berilmu dan ahli al-Qur’an.

Allahu Akbar, sungguh prinsip ini juga tidak kalah dahsyatnya, dan bisa jadi syaithon sangat mudah menjerumuskan kita kedalamnya. Seorang hamba yang shalih akan selalu berhati-hati dari ketertipuan oleh ilmu yang dimilikinya, sehingga syaithon akan menghiaskan untuknya jalan keangkuhan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Kebodohan yang akhirnya dia pun akan musnah sebagaimana yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Mahamengetahui.” (QS. Yusuf {12}:76).

05.  Tidak meremehkan dan mengabaikan ulama.

Sikap meremehkan ulama adalah bagian dari sifat seorang munafik, sedangkan kemunafikan bukanlah sifat hamba yang shalih. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Ada tiga golongan yang tidak ada yang meremehkan mereka, kecuali dia seorang munafik. Ketiga golongan itu adalah orang yang punya kedudukan (kehormatan) dalam Islam, orang yangberilmu, dan imam yang adil.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang dinilai hasan oleh at-Tirmidzi).

06.  Tidak mempelajari ilmu untuk kebanggaan.

Seorang hamba yang shalih tentu tidak akan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk pamer dihadapan para ulama dan untuk membantah orang-orang bodoh. Ia juga tidak suka , jika disebut-sebut reputasi mengenai ilmunya, sementara dia sendiri tidak mengamalkannya. Diriwayatkan dari Jabir ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga dihadapan ulama, jangan pula membantah orang-orang bodoh dan jangan menjadikannya untuk mendapatkan kesempatan memilih tempat duduk di dalam majelis! Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka neraka adalah tempat kediamannya (kelak).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

07.  Mempelajari ilmu untuk diajarkan.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari ayahnya, bahwa Nabi saw bersabda :

Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya, tanpa dilakukan pengurangan sedikit pun dari pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Ibnu Majah).

08.  Meringankan langkah dalam menuntut ilmu.

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Barangsiapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Imam Muslim).

09.  Besemangat untuk duduk mendampingi ulama (menimba ilmu).

Ath-Thabrani dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir, meriwayatkan dari Ibnu Abas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Jika kalian berjalan melewati ‘taman surga’, maka mengembala-lah di situ? Mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis ilmu.” (HR. Ath-Thabrani).

10.  Bersemangat untuk menyebarkan ilmu.

Ath-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir, juga meriwayatkan dari Samurah bin Jundu, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah manusia itu bersedekah dengan sedekah yang lebih utama dari ilmu yang disebarkan.” (HR. Thabrani).


Subhanallah, semoga melalui 10 Prinsip Ilmu ini dapatlah hendaknya kita amalkan sebagaimana mestinya, insyaAllah…




Barakallahu fiekum
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™
(Posting By Indonesian Broadcaster).


Rabu, 27 April 2011

Cukuplah Auratmu Untuk Suamimu Saja!

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


 ♥♥♥ Duhai M.U.S.L.I.M.A.H.
“Cukuplah Auratmu Untuk Suamimu Saja!”

nasihat : ~∂eanny♥divΞ


Bismillaahir rohmanir rohiim


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah ta’ala…

Jean pernah menulis sebuah ‘status’ di facebook dengan narasi sebagai berikut:

“Ketika pintu-pintu bagi syaithon engkau buka, niscaya ia yang tadinya asing akan menjadi familiar, dan terasa menyenangkan. Selanjutnya engkau keranjingan, hingga dosis pun terus meningkat. Sementara Rasulullah saw tercinta telah bersabda; "Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah asma Allah, sebab syaithon tidak akan sanggup membuka pintu yg tertutup. (HR. Bukhari).


Jean percaya, bahwa engkau memahami maksud tulisanku itu, dimana Allah ta’ala memerintahkan setiap muslimah agar menutup aurat, dan mereka terbiasa menutup anggota badannya. Sungguh dalam hal ini Islam telah mewajibkan wanita menutup auratnya, sebab dari tubuh wanita ini selalu menjadi tuntutan dan sumber FITNAH bagi kaum lelaki.

 
Dalam syari’at Islam, wanita selalu diperintahkan untuk BERHIJAB, dengan maksud melindungi dirinya dari segala keburukan. Layaknya manisan berkualitas tinggi yang terbungkus dalam kemasan, agar ia terjaga dari polusi dan tidak rusak.

Tutuplah auratmu dengan sempurna duhai saudariku sayang. Sebab ini adalah perintah, sebagaimana yang difirmankan oleh Rabb-mu; “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan PAKAIAN TAQWA itulah yang PALING BAIK.” (QS. al-A’raaf {7}:25).

Sedangkan syaithon dalam wujud tak tampak maupun berwujud sama dengan kita, sangat bernafsu hendak menelanjangi umat Muhammad dengan dalih gaya (modernisasi) serta budaya ‘ngeceng’ atau gengsi (show off).

Sebenarnya Islam tidak melarang kita untuk mempercantik diri, memelihara rambut nan indah alias tidak pernah dicukur cepak, memelihara tubuh agar tidak berlemak dan tidak berpenyakit, menjaga kebersihan, kemulusan, maupun keharuman tubuh sepanjang hari, serta perihal lainnya yang insyaAllah dapat membahagiakan hati dengan cara baik dan benar.

Akan tetapi semua itu kita upayakan, semata demi menyenangkan hati SUAMI saja. Sungguh BOHONG rasanya, jika suami tidak suka kepada istri yang tampil cantik dengan rambut indah tergerai, tubuh dan kulit yang mulus, sehat, proporsional, bersih, wangi, serta nafas yang segar berikut tutur kata yang lemah lembut dan terjaga. Subhanallah, sungguh semua itu HANYA UNTUK SUAMI SAJA. Sebab kaum muslimah adalah bukan boneka ‘mannequin’, atau ia juga bukan piala bergilir yang dapat dinikmati oleh siapa saja. Na’udzubillaah tsumma na’udzubillaah...

Maka hendaknya janganlah na’if! Aku tanyakan kepadamu, “apakah engkau sudi tukar-tukaran sikat gigi sama orang lain, dan tidak merasa jijik!?” Astaghfirullaah… sungguh kepada hal kecil seperti contoh sikat gigi ini saja, kita takkan sudi melakukannya. Lantas, apakah untuk perkara serius berupa perintah dari Allah dan Rasul-Nya akan kita selewengkan!?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka…” (QS. an-Nuur {24}:31).

Setahu jean, Islam TIDAK MELARANG kita untuk menampilkan diri dalam bentuk KETIDAK-SOMBONGAN, serta perihal baik dan benar lain, yang diniatkan bukan untuk RIYA’, tetapi karena MENGHARAP RIDHA ALLAH.
Maka sekali lagi, marilah kita tunjukkan kepribadian Islami berupa ucapan, sikap serta perbuatan dengan sebenar-benarnya. Apakah itu kejujuran, kecerdasan, keikhlasan, kerajinan, kesopanan, kesantunan, kesederhanaan, kedermawanan, sekaligus membenci segala hal yang diharamkan oleh Islam.

Adapun cara yang insyaAllah shoheh untuk mewujudkannya adalah,  TUNJUKKANLAH SEMUA ITU TANPA HARUS MEMAMERKANNYA KEPADA SEORANG PUN. Akan tetapi ini kita lakukan lantaran mengharap ridha Allah, dan semoga DIA pun semakin sayang kepada kita.

Allah ta’ala berfirman, “Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (QS. al-Mu’min {40}:38).

Subhanallah, sungguh Mahabenar Allah dengan segala firman-Nya...











Barakallahu fiikum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ

S.U.K.S.E.S. Menurut Indonesian Broadcaster

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


♥♥♥ S.U.K.S.E.S. 
Menurut Indonesian Broadcaster


Bismillaahir rohmaanir rohiim...


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah ta’ala...

Sukses menurut (kebanyakan) pendapat umum adalah, apabila seseorang disaksikan berhasil dalam karier—bisnis—rumah tangga—punya ini dan itu, dan lain sebagainya. ‘Compliment’ sukses ini juga dengan senang hati diberikan kepada orang-orang yang di anggap baik—ramah—mudah bergaul—disenangi teman—royal—dan lain-lain, meski mereka sebenarnya ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya. Ironis memang, tetapi begitulah kenyataan yang ada...!?

Adapun SUKSES menurut Indonesian Broadcaster, sungguh tidak cukup seperti itu saja, atau sebagaimnana anggapan kebanyakan orang dalam menilai kesuksesan. Sebab kesuksesan demikian itu hanya merupakan segelintir dari kesuksesan yang sebenarnya.

Ingatlah tatkala Allah ta'ala berfirman: "Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja, maka ia merugi. Sebab di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Mahamendengar lagi Mahamelihat." (QS. an-Nisaa' 134).

Dengan hujjah ini maka terbantahlah jika sekadar kaya raya—punya keluarga bahagia—baik—sosial—royal—dan lain sebagainya yang dijadikan tolok ukur selama ini adalah bentuk keliru. Sebab dalam perkara ini mereka tidak mengindahkan ANGGAPAN SESUNGGUHNYA, yakni anggapan dari Allah subhanahu wa ta'ala.

Ketahuilah sahabat, bahwa orang-orang kafir juga banyak yang baik—sosial—royal—dan silakan sebutkan apa saja yang (katanya) di anggap baik selama ini. Padahal ayat Allah telah menentukan bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu adalah SIA-SIA belaka. Mengapa? Sebab mereka ingkar kepada Allah ta’ala!

Ketika seseorang mengaku beriman, apakah ia akan bersedia patuh kepada pemahaman ‘sukses’ yang sebenarnya sesat lagi menyesatkan seperti itu!? Nau'dzubillaah...

Jika tidak, segerakanlah diri memperbaiki anggapan keliru selama ini, untuk selanjutnya sami'na wa atho'na kepada perintah Allah ta'ala sebagaimana disebutkan dalam surah al-Baqarah ayat 208?

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”

Subhanallah, sesungguhnya kaffah dalam ber-Islam merupakan bentuk SUKSES yang SUKSES sebenarnya...

Wallahua'lam bish-showab.




Barakallahu fiikum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
~∂eanny♥divΞ