Kamis, 28 April 2011

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


 

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi


Communication By : ©Abi Dive™
Bumi Allah, 28 April 2011




Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatu


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt…



Sesungguhnya mukmin itu akan selalu menjaga lidahnya dari mengucapkan kata-kata yang buruk, dan akan selalu berusaha untuk mengucapkan kata-kata yang baik. Berikut ini saya sampaikan “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”, yang insyaAllah telah di atur dalam syari’at, dan hendaknya kita patuhi bersama.



01.  Tidak memanggil dengan sebutan yang buruk

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memanggil sudaranya dengan sebutan (gelar) yang buruk. Sebab hal itu dapat menyakiti perasaan orang lain, dan menumbuhkan kebencian. Hendaknya seorang muslim saling menjaga kehormatan satu sama lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuraat {49}:11).

02.  Haram mengucapkan kata-kata yang merusak

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kata yang tidak jelas kandungannya, lalu dengan itu dia turun ke dalam neraka dengan jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

03.  Menghindari perdebatan dan berbantah-bantahan

Hamba yang shalih akan selalu meninggikan dan menjauhi perdebatan yang akan menyebabkan terjadinya sikap permusuhan dari menyia-nyiakan kebenaran, serta menghindari obrolan yang akan mendatangkan pertengkaran dan saling menjatuhkan antara sesama. Mukmin itu hanya mau menerima diskusi yang diwarnai dengan nuansa kesejukan, sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang dampaknya tidak terpuji.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl {16}:125).

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mau meninggalkan perdebatan, sedangkan dia sebagai pihak yang keliru, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di sekitar surga. Barangsiapa yang meninggalkannya ketika dia sebagai pihak yang benar, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di bagian tengah surga. Barangsiapa yang memperbaiki akhlaknya, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di bagian atas surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi).

04.  Haram membantah dan menentang kebenaran

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah {2}:204-206).

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang sangat memusuhi.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).

05.  Menghargai dan mendengarkan orang yang berbicara dengannya

Menatap wajah kepada yang berbicara dengannya, menampakkan rasa senang ketika mendengarkan perkataannya, tidak menyibukkan diri dengan berbicara sendiri, serta tidak menguap di hadapan orang yang berbicara dengannya. Jika dia berbicara dengannya, maka dia menjadikannya teratur dan tertata serta tidak membuat tertawa.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau meremehkan perkara makruf sekecil  apapun, meski (dalam bentuk) engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum.” (HR. Imam Muslim).

06.  Tidak mengucapkan “Ma sya ‘Allah wa syi’ta

Ini merupakan bentuk syirik dalam hal kehendak (masyi’ah). Ini merupakan lafal yang sangat buruk. Sebab kehendak itu hanyalah milik Allah, dan kehendak-Nya pula, hamba itu bisa berkehendak.

Imam Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘sya’Allah wa fulan’ (atas kehendak Allah dan fulan), akan tetapi ucapkanlah ‘sya’Allah tsumma fulan’ (atas kehendak Allah, kemudian kehendak fulan).”

Keterangan : Ma sya ‘Allah wa syi’tamaksudnya (atas) kehendak Allah dan kehendakmu.

07.  Tidak mengucapkan, “Andai saja”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "ANDAI SAJA mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka.” (QS. Ali Imran {3}:156).

Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau mengatakan, ‘Kalau saja aku melakukan ini dan ini, tentu akan begini dan begini!’ Akan tetapi, hendaklah dia mengucapkan, ‘Allah memang telah menakdirkannya, sedangkan apa saja yang dikehendaki oleh Allah, maka DIA bisa melakukannya.’ Sebab, kata ‘andai saja’ itu membuka pintu perbuatan syaithon.” (HR. Muslim—yang diawali dengan lafal, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oelh Allah daripada orang mukmin yang lemah).

08.  Tidak menyebut orang munafik, orang fasik, dan ahli bid’ah dengan panggilan, “Ya sayyidi” (wahai tuanku) dan semisalnya

Di riwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut, ‘sayyidina’ (tuan kami), karena sesungguhnya jika dia menjadi sayyid, maka kalian telah membuat Rabb kalian murka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i).

09.  Tidak mengatakan “Ya kafir” kepada orang muslim

Al-Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengatakan kepada saudara musliminnya; ‘Ya kafir’ (wahai si kafir), maka hal itu akan kembali kepada salah satunya. Jika memang saudaranya seperti yang dikatakannya (mungkin tidak mengapa), tapi jika tidak maka hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.”

10.  Tidak mengatakan; “binasalah orang-orang itu”

Imam Muslim, Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang mengatakan, ‘Binasalah orang-orang itu’, maka dia adalah orang yang paling binasa.”

Untuk hadits di atas Abu Ishaq mengatakan, “Aku tidak tahu apakah dibaca nashab (akhlakahum; maka dia telah membinasakan mereka), atau dibaca rata (akhlakuhum; maka dia adalah orang yang paling celaka).”

11.  Tidak menyebut ‘rajadiraja’ kepada penguasa

Sesungguhnya hanya Allah-lah penguasa yang hakiki, tidak ada yang berhak selain DIA menyandang gelar raja di atas raja. Bagi orang menggelari dirinya raja di atas segala  segala raja, sama saja dengan menyombongkan diri terhadap Pencipta-nya.

Hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling rendah (hina) di sisi Allah adalah seseorang yang menanamkan diri Malikul-Amlak (Rajadiraja atau Maharaja).”

Sufyan bin Uyaimah—salah seorang perawi hadits ini—mengatakan, “Yang disebut Malikul-Amlak adalah seperti Syahansyah (Rajadiraja).” Selanjutnya Beliau saw menambahkan, “Tidak ada penguasa hakiki, kecuali Allah.”

12.  Tidak mengucapkan “as-salamu ‘alallah

Al-Bukhari, Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengatakan; as-salamu ‘alallah (salam atas Allah), akan tetapi ucapkanlah: “Segala kehormatan itu milik Allah, demikian juga shalawat dan segala kebaikan. Kesejahteraan semoga tercurah kepadamu wahai Nabi, demikian juga rahmat Allah dan barokah-Nya. Kesejahteraan semoga tercurah kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih.”

Sesungguhnya jika engkau mengucapkan yang demikian itu, maka dia akan melimpahi setiap hamba di langit dan di bumi.”

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Kemudian silakan dia memilih dan yang menarik baginya, lalu memanjatkan doa tersebut.

13.  Tidak mengucapkan; “kita mendapatkan hujan karena bintang hujan (nau)”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Zaid bin Khalid, bahwa dia berkata, “Rasulullah mengerjakan shalat Subuh bersama kami di Hudaibiyah, di suatu tempat yang diguyur air hujan semalaman. Ketika selesai mengerjakan shalat, Beliau saw menatap para sahabat seraya berkata, “Apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau saw kemudian bersabda, “Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang menjadi mukmin dan kafir kepada-Ku. Orang yang mengucapkan; ‘Kita mendapatkan hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Nya dan mengkufuri bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Kita mendapatkan hujan karena bintang ini dan ini, maka dia menjadi kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”

14.  Tidak suka mengucapkan, “busuk jiwaku”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘busuk jiwaku’ (khabutsat nafsi), akan tetapi hendaklah dia mengatakan ‘tercela diriku’ (laqisat nafsi).”

15.  Tidak mengatakan, “ta’isas-syaithan

Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan al-Hakim meriwayatkan dari ayah Abu al-Malih, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengatakan ‘ta’isas-syaithan’ (celakalah setan), karena dengan itu dia justru membesar hingga menjadi seperti gunung. Lalu dia akan mengatakan, ‘Dengan segala kekuatanku, aku akan membantingnya.’ Tapi, hendaknya ia mengucapkan; ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Karena jika engkau mengatakan seperti ini, setan itu mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.”

16.  Tidak mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki!

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau menghendaki; Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau menghendaki!’ Hendaknya ia memantapkan permintaannya, karena tidak ada yang bisa memaksa Allah.”

Dalam hal ini memantapkan permintaan kepada Allah swt, merupakan ungkapan berbaik sangka kepada Allah swt. Itu pula sebabnya (sebagai salah satu contoh), mengapa ketika kami menyampaikan sapaan senantiasa menuliskan dengan : “Sahabat Indonesian Broadcaster YANG DIRAHMATI oleh Allah subhanahu wa ta’ala”, tanpa menggunakan penambahan kata “SEMOGA”. Wallahua’lam bish-showab.

17.  Tidak menyebut ‘Inab’ (anggur) dengan nama ‘karm

Dalam hadits muttafaq ‘alaihdisebutkan riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut ‘inab’ (anggur) dengan nama ‘karm’, karena karm (mulia) adalah orang muslim.”

Dalam riwayat lain disebutkan “Karena ‘karm’ adalah hati (jantung) orang muslim.” Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim lainnya disebutkan, “Sesungguhnya ‘karm’ adalah hati seorang muslim.”



Sahabat Indonesian Broadcaster yang di rahmati oleh Allah swt…

Demikian tadi uraian tentang “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”. Semoga dengan mengetahui dan memahaminya, hendaknya kita pun mewaspadai hal-hal tersebut agar tidak mengulanginya lagi di waktu mendatang.

Wallahua’lam bish-showab.





Barakallahu fiekum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™
(Posting By : Indonesian Broadcasting).


Tidak ada komentar: