Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasihat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Mei 2011

Cara Bergaul Dalam Islam

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


Cara Bergaul Dalam Islam




Bismillaahirrohmanirrohiim,
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt...

 

Ikhlash Kunci Sukses dalam Bergaul
 

Bergaul dengan orang lain hendaknya didasari dengan keinginan dan niat yang benar. Kecintaan dan kebencian terhadap mereka; Melakukan sesuatu atau membiarkannya; Dan berbuat sesuatu atau tidak, jika dilakukan karena Allah subhanahu wata’ala dan di atas keyakinan menjalankan perintah Allah subhanahu wata’ala, maka kita akan memperoleh kebahagiaan ketika bergaul dengan siapa saja.

Berkaitan dengan ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menyebutkan dengan ungapan yang indah "Kebahagiaan dalam bergaul dengan orang akan diraih jika engkau bergaul dengan mereka karena Allah, engkau mengharapkan ridha Allah dan tidak mengharapkan ridha mereka, engkau takut kepada Allah dan tidak takut kepada mereka, engkau berbuat baik kepada mereka karena mengharap pahala dari Allah dan tidak balasan dari mereka, engkau tidak menzhalimi mereka karena takut kepada Allah dan tidak takut kepada mereka. Sebagaimana disebutkan juga di dalam sebuah atsar, "Berharaplah pahala kepada Allah dalam urusan manusia, dan jangan berharap balasan kepada manusia dalam urusan Allah. Takutlah pada Allah dalam urusan manusia dan jangan takut kepada manusia dalam urusan Allah."

Maksudnya adalah,”Janganlah engkau melakukan suatu bentuk ibadah dan pendekatan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala karena mereka, menginginkan pujian mereka, dan karena takut kepada mereka, namun berharaplah balasan dari Allah. Dan janganlah takut kepada manusia dalam urusan Allah, baik dalam hal yang engkau kerjakan atau yang engkau tinggalkan. Bahkan kerjakan apa saja yang telah diperintah kan kepadamu meskipun mereka membencinya.”

 

Ketika Bertemu dengan Orang
 


Seseorang akan sering bertemu dengan orang lain, baik di masjid, di jalan, di tempat kerja, di rumah atau tempat-tempat lainnya. Bagaimana seharusnya sikap dia manakala berjumpa dengan seseorang? Para Salaf telah memberikan suri teladan yang sangat agung berkenaan dengan hal ini.

Abdur Rahman bin Mahdi berkata, "Disebutkan bahwa jika seseorang bertemu dengan orang lain yang lebih tinggi ilmunya, maka itu adalah hari ghanimah baginya (untuk mengambil ilmunya, red), dan jika bertemu dengan orang yang semisal (setingkat), maka ia belajar bersama dan belajar juga darinya, jika bertemu dengan yang di bawahnya, maka ia bersikap tawadhu' (rendah hati) dan mengajarinya. (Lihat, Siyar A’lam an-Nubala’ 9/203)

 

Menyikapi Orang yang Keliru dalam Mencari Kebenaran.
 

Allah subhanahu wata’ala berfirman, artinya;
“(Mereka berdo’a), "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS. Al-Baqarah {2}:286).

Syaikhul Islam berkata, "Tidak diragukan lagi bahwa orang yang mencari kebenaran yang bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian dia salah dalam sebagiannya, maka Allah subhanahu wata’ala akan mengampuni kesalahannya, sebagai realisasi dari do’a yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk Nabi-Nya dan orang-orang mukmin, ketika mereka mengatakan, artinya, "Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah." (QS. Al-Baqarah {2}:286) (Lihat, Dar’u Ta’arudl Bainal Aqli wan Naqli, 2/103)

Maka apabila ada seseorang yang telah berijtihad untuk mencari kebenaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian dia salah dalam ijtihadnya, maka dia diampuni berdasarkan ayat tersebut di atas. Demikian juga jika seorang alim telah mengerahkan kemampuannya untuk mencari kebenaran yang bersumber dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian dia salah dalam sebagian masalah i'tiqad (keyakinan), maka dia tidak divonis dengan bid'ah dan tidak dihajr (dikucilkan/ditinggalkan) disebabkan kesalahannya. Meskipun ucapan atau pendapatnya adalah ucapan yang bid'ah, namun itu tidak mengharuskan dia divonis mubtadi' (ahli bid'ah). Sebagaimana terhadap ucapan kufur, tidak mengharuskan pengucapnya divonis kafir, maka demikian juga tidak mengharuskan divonis sebagai pelaku bid'ah bagi orang yang mengucapkan perkataan bid'ah, kecuali jika syarat-syarat telah terpenuhi dan tidak ada lagi faktor penghalang jatuhnya vonis tersebut. (Lihat al-Fatawa 28/233-234)

Oleh karena itu seorang ulama yang sudah dikenal kebaikannya dan kesungguhannya di dalam mencari kebenaran, kemudian dia keliru dalam satu masalah tertentu dan terjerumus dalam satu kebid'ahan, maka tidak boleh kita katakan sebagai pelaku bid'ah. Kita jelaskan bahwa beliau salah dalam hal tersebut, atau dalam masalah itu dia mencocoki firqah fulaniyah (kelompok tertentu), namun dia bukan golongan mereka dan juga tidak memegang keyakinan mereka.

Namun demikian, meskipun dia dimaafkan, karena telah berusaha maksimal mencari yang benar, kita tetap mengatakan bahwa pendapatnya adalah keliru atau bid'ah, lalu kita harus meninggalkan pendapat tersebut dan mengambil pendapat para ulama lainnya yang lebih selamat. Berbeda halnya dengan orang yang mengambil agamanya dari selain Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka orang tersebut adalah seorang mubtadi' (pelaku bid’ah) dalam pengambilan sumber, dalam ucapan dan i’tiqad (kayakinan).

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, "Kami mencintai sunnah dan ahlinya, kami mencintai orang alim dalam hal yang mengikuti sunnah dan perkara-perkara yang terpuji. Dan kami tidak mencintai segala sesuatu yang diada-adakan berdasarkan ta'wil yang salah, dan penilaian adalah dengan banyaknya kebaikan." (Lihat, Siyar a’lam an Nubala’ 20/46)

  

Menggunjing Orang Lain adalah Penyakit dan Menyebut Allah adalah Obat


Ibnu Aun berkata, "Menyebut aib orang lain adalah penyakit, sedangkan menyebut Allah subhanahu wata’ala adalah obat."

Imam Adz-Dzahabi memberikan komentar, "Benarlah demi Allah, namun sungguh mengherankan karena kebodohan kita, mangapa di antara kita meninggalkan obat dan lebih asyik dengan penyakit? Padahal Allah subhanahu wata’ala telah befirman, artinya,
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (QS. Al-Baqarah {2}:152),
“Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaan nya dari ibadat-ibadat yang lain).” (QS. Al-'Ankabuut {29}:45),
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra'd {13}:28) (Siyar a’lam an-Nubala’6/369).

Dan juga amat banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita agar menjaga lisan serta peringatan agar tidak mengumbarnya dengan bebas tanpa kendali. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wata’ala, artinya,
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf {50}:18)

Dan firman Allah subhanahu wata’ala yang lain, artinya,
“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, "Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya.” (QS. Al-Kahfi {18}:49)

Maka orang yang berakal akan selalu memerangi nafsunya, dan selalu memikirkan ayat-ayat dan hadits tentang penjagaan lisan dari kesia-siaan, senantiasa mengutamakan dzikir sehingga dia akan terus disibukkan dengan sesuatu yang mendatangkan kebaikan di dunia dan di akhirat.

 

Memberikan Penghargaan kepada yang Berhak Mendapatkannya
 

Pilar ini tidak jauh dengan pilar keadilan dan obyektif ketika menyebut kan orang lain, akan tetapi yang dimaksudkan di sini adalah terbatas pada hal hal yang menjadi kekhususan dia dari orang selainnya. Karena di antara orang ada yang menonjol dalam ilmunya, ada pula dalam jihadnya, dalam dakwah dan selainnya.

Di antara contohnya adalah, Ubay bin Ka'ab adalah seorang ahli dalam al-Qur’an, ahli dalam tafsir yaitu Ibnu Abbas, ahli memutuskan perkara adalah Ali bin Abi Thalib, orang kepercayaan adalah Abu Ubaidah, ahli penunggang kuda adalah Khalid bin Walid ridhwanullah ‘alaihim, ahli dalam ilmu fiqih adalah Imam Malik, ahli dalam ilmu hadits adalah Ahmad bin Hanbal, ahli ibadah adalah Al-Fudail bin Iyadh, ahli Nahwu adalah Sibawaih rahimahumullah, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam.




 


Barakallaahu fiikum,
Wassalamu'alaykum wr.wb.
©Indonesian Broadcaster™

Minggu, 17 April 2011

Setiap Ucapan & Perbuatan P.A.S.T.I. Ada Risiko

@Indonesian Broadcaster™
(your radio broadcasting specialist)


W.A.S.P.A.D.A.I.L.A.H.


KONTEN SIARAN DAN PENYIAR ITU 
BUKAN (IBARAT) MENAMPILKAN WUJUD WAJAH SEPERTI INI :


AKAN TETAPI SAMPAIKAN 
DAN KEMAS-LAH SIARAN ANDA 
DENGAN SEGALA BENTUK MATERI 
YANG BAIK DAN BENAR, 
SERTA DIRIDHAI OLEH ALLAH SWT.

DENGAN BEGITU 
RIZKI YANG DITITIPKAN OLEH-NYA PUN 
INSYAALLAH AKAN MENJADI BAROKAH DAN MANFAAT...







N.O.T.E. : 
Silakan klik "Attachment" di bawah ini untuk mendengarkan beberapa nasihat...





 Pesan ini di sampaikan oleh : 

©Indonesian Broadcaster™

JANGANLAH MENGANIAYA KAUM WANITA

@Indonesian Broadcaster™
(your radio broadcasting specialist)


JANGANLAH MENGANIAYA

KAUM WANITA



 
Bismillaahirrohmanirrohiim.
Assalamua’laikum warohmatullaahi wabarokaatuh.


Saudara-saudariku yang semoga selalu dirahmati oleh Allah swt.

Kaum wanita banyak yang berkata bahwa kita, kaum pria, seringkali melalimi kaum wanita. Apakah tuduhan mereka itu dapat dibenarkan?

Ya, kita memang melalimi kaum wanita bila kita membebani mereka dengan berbagai tradisi warisan masa lalu yang seringkali bersifat sewenang-wenang terhadap mereka. Kita selalu menganggap mereka seakan-akan makhluk yang tak bisa terlepas dari dosa. Kita seringkali memandang mereka seakan-akan makhluk yang kotor dan jahat. Mereka di mata kita adalah makhluk yang rendah dan hina, seakan-akan mereka tercipta dari air yang buruk. Kita beranggapan bahwa mereka tak mungkin menghasilkan kebaikan apa pun. Astaghfirullaah…

Singkatnya, dari kaum wanita itu tak mungkin ada keutamaan dalam bentuk apa pun. Kita melalimi kaum wanita ketika kita lebih mengutamakan kaum pria daripada kaum wanita dalam kecintaan, pergaulan, wasiat, dan sebagainya. Dengan perlakuan seperti itu berarti sejak dini kita telah menanamkan kedengkian dan pembangkangan dalam jiwa kaum wanita. Masih banyak kaum pria, termasuk kita, yang perasaannya terhadap kaum wanita masih tak jauh berbeda dengan kaum pria Jahiliyah. Al-Qur’an menggambarkan perasaan kaum pria Jahiliyah terhadap kaum wanita dengan ungkapan sebagai berikut:

“Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu. (QS.an-Nahl {16}: 58-59).

Kita melalimi kaum wanita ketika kita membiarkan mereka bodoh dan buta huruf. Kita tak merasa perlu untuk mendidik dan memperluas wawasan mereka. Maka wajar kalau mereka menjadi tidak terampil untuk membedakan yang baik dan yang buruk. Mereka tidak tahu bagaimana cara mengelola kehidupan ini dengan sebaik-baiknya. Mereka tidak mengerti bagaimana menjaga diri dan kehormatan mereka, baik ketika sendiri maupun ketika bermasyarakat. Seandainya kita membekali mereka dengan ilmu pengetahuan yang benar dan lurus, tentu mereka akan dapat lebih bertakwa dan lebih bijaksana.

Kita melalimi kaum wanita ketika kita tidak bersungguh-sungguh dalam mendidik mereka sejak dini agar memiliki karakter yang baik, akhlak yang mulia, dan akidah yang benar. Padahal, tanpa itu semua, mereka tak mungkin dapat mewujudkan kehidupan yang penuh dengan kebaikan dan kemaslahatan. Betapa banyak sebenarnya wanita yang sangat baik ketakwaannya dan sangat menjaga dirinya. Agama bagi mereka ibarat pelita yang selalu menuntun dan menerangi mereka dalam menempuh jalan kebenaran serta menemukan nilai-nilai kebaikan. Dalam hal ini, boleh jadi para wanita lebih utama dari kebanyakan kaum pria.

Kita melalimi kaum wanita ketika kita mengurung mereka di rumah mereka,
bukan karena alasan penjagaan dan perlindungan, melainkan semata-mata karena kita terbiasa memperlakukan mereka seakan-akan perkakas rumah milik pribadi. Kita mencekal mereka di rumah karena kita menganggap mereka bodoh dan merepotkan. Mereka di pingit secara sewenang-wenang. Mereka di eksploitasi secara kasar dan kejam. Padahal, kita mampu untuk memberikan dan memelihara segala hak mereka, meskipun seandainya harus tetap dibatasi dengan hijab. Kita mampu untuk melindungi kehormatan mereka. Kita juga mampu untuk memberikan kebebasan kepada mereka untuk berolahraga dan bergerak secara leluasa. Kita bisa memberikan kepada mereka kebebasan untuk menikmati kebahagiaan hidup serta keindahan alam, secara aman dan damai, seraya tetap menjaga diri dan memelihara batas-batas. Namun bagaimana mungkin kita dapat sampai pada kondisi seperti itu kalau masih banyak pria yang memandang kaum wanita dengan pandangan seperti srigala menatap buas sekawanan domba.

Kita melalimi kaum wanita karena kita tak pernah mengajak mereka untuk bermusyawarah. Seringkali kita memandang sebelah mata kepada mereka, bahkan terkadang kita sama sekali mengabaikan keberadaan mereka sebagai salah seorang anggota rumah tangga kita. Kita tak pernah mempertimbangkan pemikiran mereka ketika kita memutuskan berbagai keputusan. Padahal seringkali keputusan tersebut—dekat maupun jauh—berkaitan dengan kehidupan mereka. Jarang sekali terpikir oleh kita untuk bertanya kepada ibu, istri, maupun putrid kita tentang bagaimana pendapat mereka dalam suatu permasalahan, meski sekadar basa-basi sekalipun. Kita melalimi mereka ketika kita memandang rendah perasaan, kecenderungan, dan naluri mereka sebagaimana pandangan kaum Jahiliyah. Tak ada bedanya dengan orang-orang bodoh, sikap dan perlakuan kita terhadap kaum wanita sangatlah otoriter. Padahal kita mampu untuk berperan sebagai guru bijaksana yang dapat mendidik mereka. Sedangkan kita sendiri dengan leluasa dapat melepaskan naluri dan perasaan tersebut dengan cara yang aman dan dibenarkan oleh syari’at. Bahkan, kita bisa meningkatkannya dan berbangga dengannya lewat ungkapan-ungkapan seni, sastra yang tinggi, olahraga yang sesuai, dan dengan berbagai kesibukan aktivitas dan hobi. Alangkah baiknya kalau kita juga menyibukkan diri dengan aktivitas yang dapat menghindarkan berbagai bencana serta menghasilkan berbagai kemanfaatan.

Kita juga melalimi kaum wanita ketika kita—karena terpedaya oleh setan—tega membiarkan wanita menjadi perawan tua. Di dada mereka berbagai perasaan berkecamuk, naluri kewanitaan mereka bergejolak, akhirnya jiwa mereka menjadi tidak stabil. Kita membiarkan mereka tumbuh menjadi orang-orang yang menderita inferiority complex (rasa rendah diri yang akut). Sedangkan kita sendiri kenyang menikmati kejantanan kita yang sebenarnya semu. Kita membangga-banggakannya secara membabi buta. Sehingga, pada akhirnya kesombongan kita itu memperdayakan kita sendiri. Sementara pria demi pria berdatangan ke rumah kita untuk melamar putri kita. Terhadap mereka kita bersikap sombong luar biasa, padahal kita semua adalah sama. Para pria yang melamar itu pun pulang dengan tangan hampa, hanya karena mereka bukan anak paman dari perempuan tersebut. Ungkapan “bukan anak paman” di sini maksudnya adalah ketidaksepadanan (tidak se-kufu) antara pria yang melamar dengan wanita yang dilamar. Padahal, apalah artinya harta dan kekayaan, apabila hati dan jiwa kita mati!? Sering terjadi sebuah lamaran ditolak karena hal-hal yang sebenarnya terlalu sepele untuk dijadikan alasan. Alasan-alasan tersebut juga tak didasarkan pada prinsip-prinsip yang benar.

Maka perawan tua itu tinggal kesepian di rumah yang besar dan ramai. Musim
pun silih berganti dengan segala kesulitan dan udara dinginnya, sampai akhirnya jiwa wanita tersebut mengalami penyimpangan. Dalam jiwa wanita tersebut timbul kebencian terhadap hidup dan kehidupan. Maka wajarlah kalau banyak wanita yang perilakunya menyimpang dan gemar mengumbar hawa nafsu. Banyak wanita yang tersesat dan melewati batas. Pada kondisi seperti itulah kaum pria yang jahat mendapat kesempatan untuk berbuat maksiat dengan sebebas-bebasnya. Naudzubillah tsumma naudzubillaah…

Kita melalimi mereka ketika kita secara sengaja ataupun tidak, membuat mereka menjadi sosok-sosok pembangkang, pemberontak, dan penyimpang. Di depan mata mereka dank e tangan mereka kita memberikan kebebasan dalam pengertian yang keliru, dan motivasi-motivasi yang malah mendorong mereka untuk berbuat seenaknya. Kita membiarkan mereka menyaksikan berbagai perkembangan dan kericuhan yang terjadi dalam kehidupan ini, baik lewat radio, Koran, majalah, atau juga lewat pergaulan dan berbagai isyu. Sementara kita menghadapkan mereka pada berbagai berita dan kondisi yang membuat semangat mereka bangkit dan bergejolak, di sisi lain secara memaksa dan kaku kita selalu berkata kepada mereka, “Awas…kamu jangan banyak beraktivitas…kamu jangan pergi keluar…semua itu haram bagi kamu…! Segala hal dan yang biasa dilakaukan manusia, segala aktifitas yang kamu saksikan sehari-hari di depan matamu, segala perilaku kamu dengar dari cerita-cerita orang di sekelilingmu…, semuanya tak patut bagi kamu…!”

Ibarat seekor kucing yang lapar, di depannya kita letakkan daging segar, kemudian kita bentak kucing tersebut, “Awas…jangan berani-berani kamu menyentuh daging itu.” Lalu kita pukul kucing itu ketika dia menyentuh dan memakan daging tersebut. Di sini hasrat dan keinginan menggebu-gebu, namun di sana perlakuan yang kasar mengancam. Akibatnya, kepatuhan yang ada adalah kepatuhan yang dusta. Suatu saat pelanggaran tentu akan terjadi juga, dan setelah pelanggaran itu terjadi, aturan pun harus ditegakkan, dia harus dihukum!

Sementara itu kita tak pernah bertanya tentang sebab terjadinya perbuatan
yang tidak patut itu. Kita tak pernah bertanya kepada wanita tersebut tentang motivasi dari kemaksiatan yang dilakukannya, lingkungan yang tak bisa dielakkannya, dorongan yang tak mampu untuk dibendungnya, serta teman-teman yang mempengaruhinya. Boleh jadi wanita yang dihukum tersebut adalah korban dari sikap kaum pria yang seringkali terpedaya oleh keangkuhan mereka. Sementara itu banyak pria yang gemar berbuat maksiat mendapatkan kebebasan untuk melampiaskan nafsu bejatnya. Ibarat seorang yang menuntut dipotongnya seekor kambing—karena kambing tersebut memakan sayuran di sekitar tanah larangan—padahal dia sendiri yang pertama kali menghalau kambing-kambing itu untuk berkeliaran di sekitar tanah larangan tersebut. Seorang pria dapat menyebabkan seorang wanita terjerumus berbuat maksiat, karena kelalaiannya, toleransinya, maupun kekeliruannya dalam mendidik dan mengarahkan. Kemudian bila pelanggaran tersebut telah terlanjur dilakukan oleh wanita tersebut, kaum pria biasanya melupakan semua itu, dan menuntut wanita tersebut untuk dihukum.

Allah swt. berfirman :
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS.an-Nisaa’ {4}: 1).

Wahai anak cucu Adam, adil-lah dalam bersikap dan janganlah menganiaya kaum wanita! Berikan kepada mereka segala apa yang telah menjadi hak dan bagian mereka. Mereka berhak mendapatkan perlindungan, ilmu pengetahuan, akhlak, agama, kemuliaan, penghormatan, penjagaan, nasihat, keleluasaan, dan pemberdayaan. Mereka juga layak untuk dijadilan teman bertukar pikiran dan perasaan. Setelah semua itu kita berikan, barulah kita bimbing dan kita awasi mereka. Dan ingatlah selalu bahwa kaum wanita adalah ibarat saudara kandung bagi kaum pria. Wallahua’lam.

MasyaAllah… Sungguh indah Islam ini Engkau ciptakan untuk diri kami ini yaa Allah…

Robbanaa afrigh ‘alainaa shobroo.










Wassalamua’laikum wr.wb.
Muhammad Dive.

Sabtu, 16 April 2011

Jadilah Pembaca Kritis

@Indonesian Broadcaster™
(your radio broadcasting specialist)


“Sebaiknya Jangan Percaya Begitu Saja, Namun Jadilah Pembaca Kritis.”



Bismillahirrohmanirrohiim

Ikhwaanii wa Akhwaatii rahimakumullaah…


Banyak perjalanan hidup orang-orang terkenal yang membutuhkan cara baca yang selektif. Sebaiknya janganlah Anda menerima begitu saja apa yang ada. Kewajiban kita adalah menimbang semua itu dengan syariah dan akal.

Sebab di antara biografi para ulama terdapat pujian karena sikap lapar mereka yang diluar batas. Karena mereka tidak beristri. Karena mereka diam di rumah sampai-sampai tidak menghadiri shalat jama’ah dan sama sekali tidak memperhatikan kebersihan badan, dan lain-lain.

Padahal bukankah semua itu bertentangan dengan syariah, dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membenarkannya.

Disebutlah dalam sejarah tentang jumlah pasukan Nabi Musa as. Mereka mengatakan, enam ratus ribu! Ini sungguh tidak masuk di akal dengan beberapa alasan., sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Khaidun dalam Muqaddimah-nya. Atau seperti perkataan mereka, al-Hajjaj membunuh seratus ribu orang. Ini juga sangat jauh dari realita.

Berapa penduduk kota Kufah saat itu, atau Iraq? Lalu siapa yang menghitung jumlah mereka yang terbunuh itu, dan mengapa mereka di bunuh!?

Ini bukan bermaksud hendak membela al-Hajjaj, namun demi sebuah realita. Atau perkataan mereka, Abu Muslim membunuh sejuta orang!! Adz-Dzahabi menyebutkan bahwa dia membunuh satu juta!?

Masya Allah, sungguh itu sangat tidak mungkin, dan jauh dari akal sehat. Ketahulah wahai sahabatku, bahwa emosi itu tunduk pada angka-angka, dan jiwa itu cenderung pada yang ajaib-ajaib atau aneh-aneh. Sehingga mereka senang untuk membesar-besarkan dalam menukil, dan melupakan penelitian yang teliti.

Padahal Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
“Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti-bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah {2}:111).

Subhanallah, sungguh pasti benar Allah dengan petunjuk-Nya...


 

Wassalamu’alaykum wr.wb.
Muhammad Dive.

Sabtu, 02 April 2011

N.A.S.I.H.A.T. INDONESIAN BROADCASTER

@Indonesian Broadcaster™
(your radio broadcasting specialist)


N.A.S.I.H.A.T. 
INDONESIAN 
BROADCASTER


Prinsip Istri Sholehah (short)

☆Ia total mencintai Allah & Rasulullah
☆Ia sami'na wa atho'na kepada syari'at Dien-nya
☆Ia patuh terhadap suami, selama kepatuhannya itu bukan bermaksiat kepada Allah ta’ala
☆Ia berbakti kepada orangtua dari kedua-duanya
☆Ia ibu yg dimuliakan oleh Allah bagi anak-anaknya
☆Ia menjaga kehormatan, harta & dirinya, ketika suami tidak ada di dekatnya


Subhanallah, insyaAllah semua itu ada pada dirimu duhai Ukthi fillah..


@bidIVe~



InsyaAllah lebih baik...











Sebaiknya segera kita kubur & tidak pernah lagi menyebutkan kata-kata seperti:

* Busyet—copot deh jantung gue—dkk
* Amit2—jijay—si ~ alan—dkk
* OMG—GBU—dkk
* Apes—sial—rugi deh gue—dkk

Akan tetapi budayakan & pergunakanlah kata-kata yang thoyyib (baik) lagi shalih, seperti:
* Astaghfirullaah—masyaAllah
* Na'udzubillah—alhamdulillah 'ala kulli haal
* Subhanallah—wal-hamdulillah—wa laa ilaaha illaAllah—Allahu Akbar
* Inna lillaahi wa inna ilaaihi rooji'uun

Sungguh Allah & Rasul-Nya sangat menyukai pilihan ke-2 tsb.


Barakallahu fiekum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
@bidIVe~


KENCAN BARENGAN SYAITHON