Tampilkan postingan dengan label Presentasi Uda Dive. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Presentasi Uda Dive. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 September 2011

Terpuruknya Siaran Radio di Indonesia

Indonesian Broadcaster (your radio broadcasting specialist)

REVISIBILITAS 
Bagi Terpuruknya Siaran Radio 
di Indonesia
Nasihat dan Penawaran Ud@dIVe~ dRadio-man
Jakarta, 27 Agustus 2011


Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Demo Radio Special Program by The Name : 
the M.I.X.E.D.

Dear Radio Management...
If you'll excuse me, i do love to say that the real SP (radio special program) is not as simple as  the same way like daily program (it was normal like daily program). So what is the different between the program that we call daily or special!?

If you're really to make it different and spectacular, i do believe that you have to totally manage the skill and creativity of your team, such as the program director—the production director—and of course all the radio air personality to be a solid team to made it happen.

Why that you have to follow this idea? Because your competitor aren't the radio station just like you are, but it's also the other media that you can name it by yourself. How come if you do manage your station like 80's, meanwhile there are no commercial television—no internet—no entertainment places as much as now...!?


TERPURUKNYA SIARAN RADIO DI INDONESIA
( Suatu kenyataan yang idealnya membuat kita untuk bersegera diri bangkit dari keterpurukan, dan melakukan revisibilitas secara total. Wallahua'lam bish-showab )





01. Introduction DOWNLOAD
02. History (bag.1) DOWNLOAD
03. History (bag.2) DOWNLOAD
04. Kasus (bag 1) DOWNLOAD
05. Kasus (bag 2) DOWNLOAD
06. Kasus (bag.3) DOWNLOAD
07. Kasus (bag.4) DOWNLOAD
08. Minim Kreatifitas DOWNLOAD
09. Krisis PD DOWNLOAD
10. Revisibilitas DOWNLOAD


 
Sahabat Pengelola Siaran Radio di Indonesia...

Ud@dIVe~ dRadio-man merupakan "Radio Consultant" yang insyaAllah siap membantu Sahabat Pengelola Siaran Radio di Indonesia secara profesional, mulai dari pembenahan Program--Produksi--Siaran--Special Training--hingga Manajemen dan Marketing siaran radio.

Dengan prinsip dan keyakinan "Success is Syari'at Islam, Not The Others", maka bersama talenta yang dititipkan oleh Allah kepada kami, insyaAllah bersamanya hendak mengajak Sahabat Pengelola Siaran Radio untuk menjemput keberhasilan dengan cara yang syar'iy dan di ridhoi oleh Allah subhanahu wa ta'ala.

Ketahuilah sahabat, bahwa ketika kita ingin menjemput suatu bentuk kesuksesan, maka cara yang dapat dilakukan ternyata hanya ada 2 :

1. Cara baik dan benar (Al-Haqq)
2. Cara salah dan sesat (Bathil)

Sedangkan dari 2 (dua) cara itu akan terbentuk 2 ketentuan baku pula atas kehendak Allah ta'ala, yakni BERHASIL atau GAGAL
 

Adapun kecerdasan dan kepekaan yang dituntut di sini adalah, bukan sekadar (toh) berhasil !? Tetapi berhasil menurut kata hati itu, ternyata menggunakan cara salah dan sesat (bathil). Wallaahi, bisa jadi ketika di dunya anda berkesempatan memiliki kekayaan yang berlimpah, tapi semua itu pasti berakhir ketika sakrotul maut telah datang menjemput. Lantas bagaimana pertanggung-jawaban di akhirat nanti!? Begitu juga sebaliknya! Bagaimana jika cara salah dan sesat (bathil) itu ditentukan oleh Allah menjadi kenyataan GAGAL? MasyaAllah, betapa ruginya orang-orang yang tetap berkeras hati menggunakan prinsip salah lagi sesat yang selama ini diyakininya sebagai satu-satunya cara untuk meraih sukses...!?

Maka pilihan bagi orang-orang beriman lagi cerdas, tentu mereka akan 'memastikan' dirinya berada pada cara yang baik dan benar (al-Haqq). Sebab ketika Allah ta'ala menentukan menunda keberhasilan baginya atau gagal sekali pun, sungguh ia akan tetap UNTUNG BESAR, sebab hidup abadinya insyaAllah akan selamat selama-lamanya.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman : "Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. At-Taubah 105).

Subhanallah, sungguh pasti benar Allah dengan segala petunjuk-Nya...


Stuck!? Give up, or you do need help?
Please call me directly...
Ups, one more thing... The Real Success is Syariat Islam, Not The Others.
Thank you... ☆☆☆☆☆


Office & Studio :
Jl. Timo Terusan No. 9g
Komp. PLN Duren Tiga
Jakarta Selatan 12760


Hotline : (62-21) 7993117 - (021) 93660030
Cell Contact : 085365595553 - 082124611086
BB Pin : 23AB0173 - 238693E6
e-mail : abidive@gmail.com - indonesianbroadcaster@yahoo.com
Blog : Ud@dIVe~ dRadio-man - Indonesian Broadcaster
Some of Demo Show Reel :
Ud@dIVe dRadio-man Production Demo Show Reel




Barakallaahu fiekum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Ud@dIVe~ dRadio-man

ISTRI ISTRI TAKUT SUAMI !?

Indonesian Broadcaster (your radio broadcasting specialist)

ISTRI ISTRI TAKUT SUAMI !? 
Suami Suami Takut Istri !?
sekadar nasihat Ud@dIVe~ dRadio-man
Jakarta, 11 September 2011
 


 

Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat kami yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...

Allah azza wa jalla berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman." (QS. Al-Muthaffifin 29).

Lantas dengan begitu apakah kita dibenarkan mentertawakan atau memperolok-olok yang selain daripadanya...!?

Tentu saja tidak demikian duhai sahabat...
Menurut kami, (semisal) sinetron "Suami Suami Takut Istri" adalah bukan (sekadar) menggambarkan realita. Akan tetapi ia bisa menjadi suatu bentuk pelecehan terhadap kaum lelaki (suami), yang sejak dulu (umumnya) 'no comment' mendapati perlakuan seperti itu.

Apa jadinya jika ejek-mengejek ini saling berbalas dan berlanjut menjadi ajang membeberkan aib antara satu dengan lainnya...!? Katakanlah ada pihak lain yang membuat sinetron tandingan, dimana realitanya bisa juga terjadi di masyarakat, misalnya (afwan) dengan judul: "ISTRI-ISTRI TAKUT SUAMI" atau ada yang membuat judul lagu PEREMPUAN, TUKANG SELINGKUH, BUSYET...!

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. Al-Hujuraat 11).
Astaghfirullaah... Dari tayangan atau pengudaraan hal tersebut, bukan mustahil banyak kaum perempuan yang menamakan kelompoknya "Kesetaraan Gender", akan mencak-mencak lantaran emosi, hingga (mungkin) melakukan protes sampai ke gedung DPR ^^ Nah kalau sudah begini, lucu bukan...!? Padahal jika kelompok ini adalah pihak yang berpihak pada kebenaran, idealnya mereka juga akan mencak-mencak dan protes kepada semisal tayangan sinetron "Suami Suami Takut Istri", atau sewaktu mendengar RATU menyanyikan lagu dengan judul "Lelaki Buaya Darat, Busyet...!

Bukan apa-apa, jika L.E.L.A.K.I. atau S.U.A.M.I. yang di 'stressing' dalam pelecehan tersebut, bukankah ayah dari setiap perempuan adalah LELAKI, dimana ia merupakan SUAMI dari ibunya...!? Begitu juga dengan istilah "Kesetaraan" yang entah apa maksudnya, namun jika setara ini di maksud sebagai penentangan bagi suatu perkara yang sudah ditegaskan dalam syari'at Islam tentang lelaki dan perempuan, tentu ini merupakan kekeliruan yang nyata. Namun jika setara yang di maksud adalah kesejajaran haqq antara lelaki dan perempuan menurut syari'at Islam, sungguh demikianlah kelawazimannya.

Dalam hal ini Allah ta'ala berfirman, "Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl 97).

Jadi saran kami, hendaknya hentikanlah mempermasalahkan debilitas gender yang di 'blow up' sedemikian rupa, sehingga itu hanya sekadar menjajakan aib seseorang, atau menjadikannya sebagai ajang GHIBAH di antara sesama hamba Allah. Sungguh bahwa di antara lelaki dan perempuan, bisa jadi memiliki kekurangan dan atau kelebihannya masing-masing. Oleh karena itu, marilah kita saling mengingatkan dan mengisi satu sama lain dalam kebaikan, dengan cara yang di ridhai oleh Allah ta'ala.

Wallahua'lam bish-showab...




Barakallaahu fiekum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Ud@dIVe~ dRadio-man


KUNCI SUKSES PROFESIONALISME

Indonesian Broadcaster (your radio broadcasting specialist)


KUNCI SUKSES 
PROFESIONALISME
Jakarta, 11 September 2011
 


Bismillaahir rohmaanir rohiim
Assalamu'alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat kami yang di rahmati oleh Allah subhanahu wa ta'ala...

Mungkin sahabat pernah memperhatikan atau membaca sebuah 'statement' yang saya tuliskan, sebagai berikut: "Success is Syariat Islam, Not The Others...!"

Sesungguhnya pernyataan itu bukan sekadar 'lips service' atau (lebih tepatnya) bukan sekadar pengakuan diri sebagai umat Islam saja. Akan tetapi ke-kaffah-an kita terhadap perintah dan larangan dien Islam harus sejalan bersama syahadat yang sudah dilakukannya, ke dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hendaknya kita tidak berhenti hingga pelaksanaan ibadah 'mahdoh' saja, melainkan juga dilanjutkan kepada seluruh aktifitas kehidupan secara keseluruhan. Apakah itu dalam ruang lingkup diri pribadi, keluarga, hingga masyarakat yang lebih luas lagi.

Maka bersama syariat Islam yang ditunaikan secara 'kaffah' dalam kehidupan kita, insyaAllah kesuksesan (keselamatan) bagi dunia pun merupakan keniscayaan, sedangkan untuk perkara akhirat merupakan KEPASTIAN.

Melalui tayangan video di bawah ini, saya memang mempresentasikan prinsip di atas kepada dunia kepenyiaran. Namun sebenarnya ia juga berlaku bagi seluruh disiplin ilmu yang ada di dunia ini, wallahua'lam bish-showab...

Selamat mengikuti, insyaAllah barokah dan manfaat...

NOTE : Sahabat, apabila suara lagu yang terdengar di rasa mengganggu, silakan jalankan 'scroll' anda ke bagian atas, maka 'pause' lagu yang berjudul "It's Impossible" ini terdapat di sebelah kanan tulisan "Sale Display". Terima kasih.





Barakallaahu fiekum
Wassalamu'alaykum wr.wb.
Ud@dIVe~ dRadio-man

Kamis, 28 April 2011

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)


 

17 Prinsip Dalam Berkomunikasi


Communication By : ©Abi Dive™
Bumi Allah, 28 April 2011




Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatu


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt…



Sesungguhnya mukmin itu akan selalu menjaga lidahnya dari mengucapkan kata-kata yang buruk, dan akan selalu berusaha untuk mengucapkan kata-kata yang baik. Berikut ini saya sampaikan “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”, yang insyaAllah telah di atur dalam syari’at, dan hendaknya kita patuhi bersama.



01.  Tidak memanggil dengan sebutan yang buruk

Tidak diperbolehkan bagi seorang muslim untuk memanggil sudaranya dengan sebutan (gelar) yang buruk. Sebab hal itu dapat menyakiti perasaan orang lain, dan menumbuhkan kebencian. Hendaknya seorang muslim saling menjaga kehormatan satu sama lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Janganlah kalian panggil memanggil dengan gelar-gelar yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujuraat {49}:11).

02.  Haram mengucapkan kata-kata yang merusak

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kata yang tidak jelas kandungannya, lalu dengan itu dia turun ke dalam neraka dengan jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

03.  Menghindari perdebatan dan berbantah-bantahan

Hamba yang shalih akan selalu meninggikan dan menjauhi perdebatan yang akan menyebabkan terjadinya sikap permusuhan dari menyia-nyiakan kebenaran, serta menghindari obrolan yang akan mendatangkan pertengkaran dan saling menjatuhkan antara sesama. Mukmin itu hanya mau menerima diskusi yang diwarnai dengan nuansa kesejukan, sehingga tidak akan terjadi sesuatu yang dampaknya tidak terpuji.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl {16}:125).

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa mau meninggalkan perdebatan, sedangkan dia sebagai pihak yang keliru, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di sekitar surga. Barangsiapa yang meninggalkannya ketika dia sebagai pihak yang benar, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di bagian tengah surga. Barangsiapa yang memperbaiki akhlaknya, maka akan dibangunkan untuknya sebuah rumah yang berada di bagian atas surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi).

04.  Haram membantah dan menentang kebenaran

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan. Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah {2}:204-206).

Diriwayatkan dari Aisyah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Orang yang paling dimurkai Allah adalah orang yang sangat memusuhi.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i dan Ahmad).

05.  Menghargai dan mendengarkan orang yang berbicara dengannya

Menatap wajah kepada yang berbicara dengannya, menampakkan rasa senang ketika mendengarkan perkataannya, tidak menyibukkan diri dengan berbicara sendiri, serta tidak menguap di hadapan orang yang berbicara dengannya. Jika dia berbicara dengannya, maka dia menjadikannya teratur dan tertata serta tidak membuat tertawa.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau meremehkan perkara makruf sekecil  apapun, meski (dalam bentuk) engkau bertemu dengan saudaramu dengan wajah tersenyum.” (HR. Imam Muslim).

06.  Tidak mengucapkan “Ma sya ‘Allah wa syi’ta”

Ini merupakan bentuk syirik dalam hal kehendak (masyi’ah). Ini merupakan lafal yang sangat buruk. Sebab kehendak itu hanyalah milik Allah, dan kehendak-Nya pula, hamba itu bisa berkehendak.

Imam Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasa’i meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengucapkan ‘sya’Allah wa fulan’ (atas kehendak Allah dan fulan), akan tetapi ucapkanlah ‘sya’Allah tsumma fulan’ (atas kehendak Allah, kemudian kehendak fulan).”

Keterangan : “Ma sya ‘Allah wa syi’ta” maksudnya (atas) kehendak Allah dan kehendakmu.

07.  Tidak mengucapkan, “Andai saja”

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka apabila mereka mengadakan perjalanan di muka bumi atau mereka berperang: "ANDAI SAJA mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka.” (QS. Ali Imran {3}:156).

Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau ditimpa sesuatu, maka janganlah engkau mengatakan, ‘Kalau saja aku melakukan ini dan ini, tentu akan begini dan begini!’ Akan tetapi, hendaklah dia mengucapkan, ‘Allah memang telah menakdirkannya, sedangkan apa saja yang dikehendaki oleh Allah, maka DIA bisa melakukannya.’ Sebab, kata ‘andai saja’ itu membuka pintu perbuatan syaithon.” (HR. Muslim—yang diawali dengan lafal, “Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oelh Allah daripada orang mukmin yang lemah).

08.  Tidak menyebut orang munafik, orang fasik, dan ahli bid’ah dengan panggilan, “Ya sayyidi” (wahai tuanku) dan semisalnya

Di riwayatkan dari Buraidah, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut, ‘sayyidina’ (tuan kami), karena sesungguhnya jika dia menjadi sayyid, maka kalian telah membuat Rabb kalian murka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i).

09.  Tidak mengatakan “Ya kafir” kepada orang muslim

Al-Bukhari dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian mengatakan kepada saudara musliminnya; ‘Ya kafir’ (wahai si kafir), maka hal itu akan kembali kepada salah satunya. Jika memang saudaranya seperti yang dikatakannya (mungkin tidak mengapa), tapi jika tidak maka hal itu akan kembali kepada dirinya sendiri.”

10.  Tidak mengatakan; “binasalah orang-orang itu”

Imam Muslim, Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang mengatakan, ‘Binasalah orang-orang itu’, maka dia adalah orang yang paling binasa.”

Untuk hadits di atas Abu Ishaq mengatakan, “Aku tidak tahu apakah dibaca nashab (akhlakahum; maka dia telah membinasakan mereka), atau dibaca rata (akhlakuhum; maka dia adalah orang yang paling celaka).”

11.  Tidak menyebut ‘rajadiraja’ kepada penguasa

Sesungguhnya hanya Allah-lah penguasa yang hakiki, tidak ada yang berhak selain DIA menyandang gelar raja di atas raja. Bagi orang menggelari dirinya raja di atas segala  segala raja, sama saja dengan menyombongkan diri terhadap Pencipta-nya.

Hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra bahwa Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling rendah (hina) di sisi Allah adalah seseorang yang menanamkan diri Malikul-Amlak (Rajadiraja atau Maharaja).”

Sufyan bin Uyaimah—salah seorang perawi hadits ini—mengatakan, “Yang disebut Malikul-Amlak adalah seperti Syahansyah (Rajadiraja).” Selanjutnya Beliau saw menambahkan, “Tidak ada penguasa hakiki, kecuali Allah.”

12.  Tidak mengucapkan “as-salamu ‘alallah”

Al-Bukhari, Muslim dan lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian mengatakan; as-salamu ‘alallah (salam atas Allah), akan tetapi ucapkanlah: “Segala kehormatan itu milik Allah, demikian juga shalawat dan segala kebaikan. Kesejahteraan semoga tercurah kepadamu wahai Nabi, demikian juga rahmat Allah dan barokah-Nya. Kesejahteraan semoga tercurah kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih.”

“Sesungguhnya jika engkau mengucapkan yang demikian itu, maka dia akan melimpahi setiap hamba di langit dan di bumi.”

“Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, dan aku bersaksi pula bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Kemudian silakan dia memilih dan yang menarik baginya, lalu memanjatkan doa tersebut.

13.  Tidak mengucapkan; “kita mendapatkan hujan karena bintang hujan (nau)”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Zaid bin Khalid, bahwa dia berkata, “Rasulullah mengerjakan shalat Subuh bersama kami di Hudaibiyah, di suatu tempat yang diguyur air hujan semalaman. Ketika selesai mengerjakan shalat, Beliau saw menatap para sahabat seraya berkata, “Apakah kalian tahu apa yang dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Beliau saw kemudian bersabda, “Pagi ini di antara hamba-Ku ada yang menjadi mukmin dan kafir kepada-Ku. Orang yang mengucapkan; ‘Kita mendapatkan hujan berkat karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dia adalah orang yang beriman kepada-Nya dan mengkufuri bintang. Sedangkan orang yang mengatakan, ‘Kita mendapatkan hujan karena bintang ini dan ini, maka dia menjadi kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”

14.  Tidak suka mengucapkan, “busuk jiwaku”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Aisyah ra bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengucapkan ‘busuk jiwaku’ (khabutsat nafsi), akan tetapi hendaklah dia mengatakan ‘tercela diriku’ (laqisat nafsi).”

15.  Tidak mengatakan, “ta’isas-syaithan”

Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan al-Hakim meriwayatkan dari ayah Abu al-Malih, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah engkau mengatakan ‘ta’isas-syaithan’ (celakalah setan), karena dengan itu dia justru membesar hingga menjadi seperti gunung. Lalu dia akan mengatakan, ‘Dengan segala kekuatanku, aku akan membantingnya.’ Tapi, hendaknya ia mengucapkan; ‘Bismillah’ (dengan menyebut nama Allah). Karena jika engkau mengatakan seperti ini, setan itu mengecil hingga menjadi seperti seekor lalat.”

16.  Tidak mengucapkan, “Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki!”

Dalam hadits muttafaq ‘alaih disebutkan riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian mengatakan, ‘Ya Allah, ampunilah aku, jika Engkau menghendaki; Ya Allah, rahmatilah aku, jika Engkau menghendaki!’ Hendaknya ia memantapkan permintaannya, karena tidak ada yang bisa memaksa Allah.”

Dalam hal ini memantapkan permintaan kepada Allah swt, merupakan ungkapan berbaik sangka kepada Allah swt. Itu pula sebabnya (sebagai salah satu contoh), mengapa ketika kami menyampaikan sapaan senantiasa menuliskan dengan : “Sahabat Indonesian Broadcaster YANG DIRAHMATI oleh Allah subhanahu wa ta’ala”, tanpa menggunakan penambahan kata “SEMOGA”. Wallahua’lam bish-showab.

17.  Tidak menyebut ‘Inab’ (anggur) dengan nama ‘karm’

Dalam hadits muttafaq ‘alaihdisebutkan riwayat dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menyebut ‘inab’ (anggur) dengan nama ‘karm’, karena karm (mulia) adalah orang muslim.”

Dalam riwayat lain disebutkan “Karena ‘karm’ adalah hati (jantung) orang muslim.” Dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim lainnya disebutkan, “Sesungguhnya ‘karm’ adalah hati seorang muslim.”



Sahabat Indonesian Broadcaster yang di rahmati oleh Allah swt…

Demikian tadi uraian tentang “17 Prinsip Dalam Berkomunikasi”. Semoga dengan mengetahui dan memahaminya, hendaknya kita pun mewaspadai hal-hal tersebut agar tidak mengulanginya lagi di waktu mendatang.

Wallahua’lam bish-showab.





Barakallahu fiekum,
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™
(Posting By : Indonesian Broadcasting).


10 Prinsip Ilmu

Indonesian Broadcaster
(your radio broadcasting specialist)



10 Prinsip Ilmu

Communication By : ©Uda Dive™
Bumi Allah, 28 April 2011




Bismillahirrohmanirrohiim
Assalamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh


Sahabat Indonesian Broadcaster yang dirahmati oleh Allah swt…

Setiap muslim hendaknya menyadari, bahwa ilmu MUTLAK harus dimiliki, karena hanya dengan ilmu, ia akan mampu mengetahui hal-hal yang akan semakin meneguhkan keimanannya dan menetapkan akidahnya.

Bahkan dalam beribadah kepada Allah, menuntut setiap orang yang beriman untuk mempelajari hukum-hukum syara’, sehingga ia dapat beribadah berdasarkan pengetahuan yang mendalam tentang hal-hal yang dilakukannya. Dan melalui ilmu jua manusia akan mencapai pemahaman tentang kesempurnaan, keagungan, dan kekuasaan Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir {35}:28).

Para ulama pada setiap waktu dan tempat,tetap menjadi pemimpin dan panutan. Allah menyinari pandangan mereka dengan ilmu dan hikmah. Diriwayatkan dari Mu’awiyah, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa dikehendaki kebaikannya oleh Allah, maka Allah memahamkannya dalam urusan dien.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah).


Sahabat Indonesian Broadcaster, berikut ini adalah “10 Prinsip Ilmu” yang di maksud :

01.  Mempelajari ilmu demi mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala.

Hamba yang shalih akan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah, meraih ridha-Nya, dan mendapatkan pahala dari-Nya. Sesungguhnya ia tidak akan belajar ilmu demi meraih materi keduniaan yang fana, sehingga ia tidak akan mendapatkan pahala dari Allah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya diniatkan untuk mendapatkan ridha Allah, namun ia tidaklah mempelajarinya, kecuali untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia kelak tidak akan mendapatkan aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Hakim).

02.  Tidak menyembunyikan ilmu.

Wahai diri, jangan pernah engkau pelit dengan ilmu dan menyembunyikannya demi kepentingan dirimu sendiri. Sebab sesungguhnya ilmu itu adalah milik Allah swt, dan engkau diperintah-Nya untuk memberi khabar gembira ini kepada semesta alam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknat (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat melaknati.” (QS. Al-Baqarah {2}:159).

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menyembunyikan ilmu dari orang yang semestinya berhak mendapatkannya, maka pada hari kiamat akan di kekang dengan kekang dari api neraka.” (HR. Ibnu Adiy).

03.  Mengamalkan ilmu.

Hamba yang shalih selalu mengamalkan ilmu yang dimilikinya, sehingga ia menjadi teladan bagi yang lain. Juga agar di akhirat nanti ia tidak akan ditelanjangi boroknya, sehingga ia mengatakan, “Memang benar, aku memerintahkan hal yang makruf, namun aku sendiri justru mengerjakannya.”

Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : “Pada hari kiamat nanti, ada seseorang yang didatangkan, lalu dia dimasukkan ke dalam neraka sehingga usus-ususnya keluar dari perut, kemudian dengan usus-usus itu dia akan berputar-putar seperti berputarnya keledai pada alat penggilingan. Para penghuni neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata, ‘Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau orang yang dahulu memerintahkan yang makruf dan melarang yang mungkar?’ Dia pun menjawab, ‘Aku memang telah memerintahkan kalian untuk berbuat yang makruf, namun aku sendiri tidak mengerjakannya. Demikian juga aku cegah kalian dari keburukan, namun aku sendiri jutru melakukannya.”

Usamah bin Zaid juga mengatakan, “Aku juga telah mendengar Beliau saw bersabda, “Pada malam ketika aku di isra’kan oleh Allah, maka aku melewati suatu kaum yang bibir mereka akan di gunting dengan gunting dari api neraka. Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka itu, Jibril?’ Jibril menjawab, ‘Mereka itu adalah para juru khutbah (penceramah, da’i) yang mengatakan (memerintahkan) sesuatu yang mereka sendiri tidak mengerjakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff {61}:2-3).

MasyaAllah sungguh mengerikan ketentuan “Prinsip Ilmu” pada poin ketiga ini. Astaghfirullah, jangan-jangan saya juga termasuk seseorang yang pernah berbuat demikian, astaghfirullaah wa naudzubillahi min dzaliq. Yaa Allah, ampuni kami bila sempat melakukan hal itu, baik disengaja maupun tak disengaja. Ampuni kami yaa Allaah…

04.  Menjaga diri dari mengaku sebagai orang berilmu dan ahli al-Qur’an.

Allahu Akbar, sungguh prinsip ini juga tidak kalah dahsyatnya, dan bisa jadi syaithon sangat mudah menjerumuskan kita kedalamnya. Seorang hamba yang shalih akan selalu berhati-hati dari ketertipuan oleh ilmu yang dimilikinya, sehingga syaithon akan menghiaskan untuknya jalan keangkuhan dan kebanggaan terhadap diri sendiri. Kebodohan yang akhirnya dia pun akan musnah sebagaimana yang lain.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman : “Di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Mahamengetahui.” (QS. Yusuf {12}:76).

05.  Tidak meremehkan dan mengabaikan ulama.

Sikap meremehkan ulama adalah bagian dari sifat seorang munafik, sedangkan kemunafikan bukanlah sifat hamba yang shalih. Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Ada tiga golongan yang tidak ada yang meremehkan mereka, kecuali dia seorang munafik. Ketiga golongan itu adalah orang yang punya kedudukan (kehormatan) dalam Islam, orang yangberilmu, dan imam yang adil.” (HR. Ath-Thabrani dengan sanad yang dinilai hasan oleh at-Tirmidzi).

06.  Tidak mempelajari ilmu untuk kebanggaan.

Seorang hamba yang shalih tentu tidak akan mempelajari ilmu dengan tujuan untuk pamer dihadapan para ulama dan untuk membantah orang-orang bodoh. Ia juga tidak suka , jika disebut-sebut reputasi mengenai ilmunya, sementara dia sendiri tidak mengamalkannya. Diriwayatkan dari Jabir ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Janganlah kalian mempelajari ilmu untuk berbangga dihadapan ulama, jangan pula membantah orang-orang bodoh dan jangan menjadikannya untuk mendapatkan kesempatan memilih tempat duduk di dalam majelis! Barangsiapa yang melakukan hal itu, maka neraka adalah tempat kediamannya (kelak).” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan al-Baihaqi).

07.  Mempelajari ilmu untuk diajarkan.

Ibnu Majah meriwayatkan dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari ayahnya, bahwa Nabi saw bersabda :

“Barangsiapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala dari orang yang mengamalkannya, tanpa dilakukan pengurangan sedikit pun dari pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Ibnu Majah).

08.  Meringankan langkah dalam menuntut ilmu.

Imam Muslim dan lainnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Barangsiapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Imam Muslim).

09.  Besemangat untuk duduk mendampingi ulama (menimba ilmu).

Ath-Thabrani dalam kitabnya, al-Mu’jam al-Kabir, meriwayatkan dari Ibnu Abas ra, bahwa Rasulullah saw bersabda :

“Jika kalian berjalan melewati ‘taman surga’, maka mengembala-lah di situ? Mereka bertanya, ‘Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan taman surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Majelis-majelis ilmu.” (HR. Ath-Thabrani).

10.  Bersemangat untuk menyebarkan ilmu.

Ath-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Kabir, juga meriwayatkan dari Samurah bin Jundu, bahwa Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah manusia itu bersedekah dengan sedekah yang lebih utama dari ilmu yang disebarkan.” (HR. Thabrani).


Subhanallah, semoga melalui 10 Prinsip Ilmu ini dapatlah hendaknya kita amalkan sebagaimana mestinya, insyaAllah…




Barakallahu fiekum
Wassalamu’alaykum wr.wb.
©Muhammad Dive™
(Posting By Indonesian Broadcaster).